Assalamualaikum semuanya para Readers ,YA kali ini bertemu lagi dengan gw ryzki stark sang legenda, HAHAHA ,gw kali ini mau update dan ngereview game tentang GOD OF WAR 4 dimana tetap si gundul Kratos dari God of War yang tetap jadi pemerannya,menurut gw ini adalah berita gembira karena gamer mana yang tidak pernah mendengar atau mengenal Game ini. Terlepas dari fakta bahwa keduanya merupakan produk eksklusif Playstation sejak era Playstation 2, franchise game action yang satu ini memang tumbuh menjadi judul ikonik dengan kualitas yang tidak perlu lagi diragukan. Ketika sebagian game gagal merepresentasikan mitologi klasik yang keren ke dalam sebuah cerita yang memuaskan, Sony Santa Monica melakukan tugas tersebut dengan sangat baik. Walaupun eksistensi karakter Kratos terhitung “fiktif”, namun misi balas dendamnya yang berakhir dengan hancurnya Olympus dan dunia lewat beragam seri berbeda adalah sebuah perjalanan panjang yang emosional. Tidak mengherankan jika antisipasi terhadap seri terbarunya yang akan dilepas dalam beberapa minggu ke depan – God of War begitu kuat.
Anda yang sudah membaca artikel preview kami sebelumnya sepertinya sudah mendapatkan cukup banyak gambaran apa yang sebenarnya ditawarkan oleh seri yang satu ini. Sony Santa Monica memang menempuh begitu banyak perubahan beresiko dengannya, dari sisi cerita, mitologi, gameplay, hingga sistem kamera. Sebagai gamer yang sempat skeptis di awal, kami menyambut ragam perubahan ini dengan tangan terbuka. Bahwa apa yang ditawarkan Sony Santa Monica di sini bukanlah sekedar usaha untuk merevitalisasi sebuah franchise yang secara mengejutkan, punya kesempatan untuk hidup kembali, tetapi melanjutkan kisah seorang karakter ikonik yang punya ikatan emosional dengan para fansnya. Dan sejauh ini, ia berujung mengagumkan.
Lantas, apa yang sebenarnya ditawarkan oleh God of War? Mengapa kami menyebutnya sebagai babak baru yang mengagumkan? Review ini akan membahasnya lebih dalam untuk Anda.
Plot
Berperan sebagai sekuel langsung, God of War terbaru ini membawa Anda pada kisah kelanjutan Kratos.
God of War terbaru ini bukanlah sebuah seri reboot, melainkan sebuah sekuel langsung dari God of War 3. Kita masih berhadapan dengan sosok Kratos yang selama ini kita kenal, namun mulai menjalani hidup yang berbeda. Ia hidup di Skandinavia, berdiri di bawah mitologi Norse, bersama dengan sebuah keluarga yang bahagia. Namun sayangnya, tragedi sepertinya tidak bisa lepas dari sosok Kratos.
Ia dibuka dengan sebuah fakta yang menyedihkan, bahwa Kratos telah kehilangan istri yang ia cintai, dan Atreus kini tidak lagi punya sosok ibu. Mempersiapkan pemakamannya dengan melalui proses kremasi, wanita yang mereka cintai punya satu permintaan terakhir – untuk menabur abunya di puncak tertinggi Norse. Sebuah perjalanan yang tentu saja, tidak mudah.
Seolah tidak bisa lepas dari tragedi, ia harus kehilangan wanita yang ia cintai di dunia yang baru ini. Kratos kini hanya ditemani oleh sang anak – Atreus.
Sebelum meninggal, istri Kratos hanya punya satu permintaan terakhir – menabur abu kremasinya di puncak tertinggi Realm.
Kratos terlebih dahulu harus melatih Atreus yang walaupun sudah memiliki kemampuan berburu dari sang ibu, namun belum cukup tanggap soal ancaman seperti apa yang menunggu mereka. Masih kecil dan tidak stabil, Atreus masih perlu banyak belajar. Kratos pada awalnya melihat bahwa ia harus memberikan waktu lama bagi Atreus untuk tumbuh. Namun situasi tersebut langsung berubah, ketika seorang pria misterius mengetuk pintu mereka. Dari sanalah Kratos tahu dan paham akan satu hal – bahwa tidak ada lagi momen yang lebih tepat untuk memenuhi permintaan istrinya sekaligus memastikan Atreus selamat.
Perjalanan cukup jauh tersebut membuat Kratos mau tidak mau harus mempersiapkan Atreus, mengajarinya semua skill yang dibutuhkan untuk bertahan hidup melawan ancaman Norse yang tidak mengenal kata ampun.
Namun prioritas tersebut berubah setelah Kratos diserang oleh seorang pria misterius.
Lantas, seperti apa perjalanan Kratos menjelajahi dunia liar untuk tiba di puncak tertinggi? Petualangan seperti apa yang harus ia lalui bersama dengan Atreus? Siapa pula pria misterius yang mengetuk pintu rumah Kratos tersebut? Semua jawaban dari pertanyaan tersebut bisa Anda temukan dengan memainkan God of War ini.
Dunia yang Baru
Selamat datang di mitologi Norse!
Sudah bukan rahasia lagi memang bahwa Kratos kini tidak lagi berpetualang di daratan Yunani, tetapi terjun masuk ke dalam mitologi Norse bersama dengan Atreus. Sony Santa Monica tentu saja punya pekerjaan berat untuk memastikan bahwa setting yang Anda dapatkan berakhir berbeda dengan apa yang Anda temukan di masa lampau. Sejauh ini, mereka berhasil melakukannya.
Daerah Skandinavia yang menjadi “rumah” bagi para petarung hebat sekelas Viking memang punya pendekatan arsitektur dan dunia yang berbeda dengan apa yang kita kenal dari Yunani sebelumnya. Anda kini akan berpetualang di tempat dengan alam liar yang terlihat lebih indah, dengan pegunungan tinggi dan bersalju yang siap menyambut apapun yang Anda persiapkan untuknya. Tentu saja, Anda juga harus berhadapan dengan jenis monster yang berbeda, sekaligus reruntuhan dan bentuk peradaban yang unik. Apalagi mengingat bahwa mitologi Norse tidak hanya berkisar soal Midgard saja. Ada dunia lain dengan cita rasa berbeda yang siap menyambut aksi Kratos dan Atreus, lebih dari sekedar sebuah tempat dingin bersalju dengan aura mistis yang kuat saja.
Tidak hanya sekedar patung megah dan salju, ia juga dipenuhi dengan aura magis yang kuat.
Kratos sekedar “terjun” masuk ke dalam sebuah dunia yang sebenarnya sudah memiliki sejarah konfliknya sendiri. Banyak peradaban tersisa dari perang Aesir, Vanir, dan Giants yang sempat terjadi.
Satu yang menarik, adalah timeline cerita itu sendiri. Kratos tidak tengah terjun di sebuah masa mitologi Norse yang masih “murni” dan damai pada saat God of War ini dimulai. Ia masuk ke dalam sebuah dunia dimana para ras di dalam mitologi Norse itu sendiri, sudah berbagi masa lalu kelam lewat beragam perang yang ada. Maka, Anda akan menemukan sisa-sisa konflik tersebut, berserakan di atas dunia yang tengah Anda jelajahi. Tiga ras utama di sini – Vanir, Aesir, dan para Giants sudah berbagi begitu banyak konflik dan kematian yang memperlihatkan hal tersebut dengan jelas lewat puing-puing di Midgard. Cerita dan kisah bagaimana mereka berusaha menghabisi satu sama lain juga dilemparkan lewat dongeng dari karakter bernama Mimir, atau sekedar dari informasi yang Anda temukan lewat eksplorasi yang Anda lakukan. Melihat bagaimana jejak-jejak mereka jelas tertinggal di Midgard menghasilkan pemandangan yang bahkan, lebih mengagumkan.
Menggunakan performa yang ditawarkan oleh Playstation 4, Sony Santa Monica memang menghasilkan sebuah produk yang lewat sisi detail, memang tampil memesona. Pada saat cut-scene terjadi, detail karakter seperti Kratos dan Atreus, dari lekuk otot, darah, cedera, ekspresi wajah, hingga hal kecil seperti bulu janggut pun terlihat penuh detail. Namun jika berbicara soal presentasi visual, satu fitur tambahan yang menurut kami berhasil menghasilkan sensasi pertarungan yang lebih epik adalah efek kehancuran lingkungan yang kini juga tersedia. Tengah bertempur di sebuah medan yang memuat pepohonan kecil atau kotak misalnya, pertarungan intens yang melibatkan musuh atau Anda yang terlempar kesana-kemari akan menghancurkan objek tersebut, bahkan terkadang, membuat efek partikel seperti salju berjatuhan.
Masih penuh darah dan adegan brutal, kualitas visualisasi untuk seri perdana di Playstation 4 ini tentu terlihat memesona.
Di samping kemampuannya menyajikan dunia keren dan kualitas visualisasi yang penuh detail, sensasi epik ini juga kian memancar kuat lewat implementasi soundtrack yang di telinga kami, tepat sasaran. Anda masih ingat dengan “Overture” yang sempat dipresentasikan secara live di pengumuman perdana God of War di E3 2016 yang lalu? Hadir di beberapa titik cerita, musik tersebut melebur sempurna dengan scene yang Anda hadapi di depan mata, memperkuat emosi yang terjadi. Tidak hanya Overture, beberapa soundtrack lainnya juga berakhir tidak kalah memesona. Elemen audio ini juga memperlihatkan kualitasnya lewat voice acting untuk semua karakter yang terasa tepat sasaran, sesuai kepribadian, dan mengalir natural, dari Atreus hingga dinamika pertengkaran antara dua bersaudara – Brok dan Sindri. Bagian terfavorit kami? Menggunakan headset di volume maksimal sebelum percakapan dengan si Serpent of World – Jormungandr yang punya bahasa uniknya sendiri di nada yang begitu rendah. Fantastis!
Karakter terasa natural dengan voice acting yang pantas untuk diacungi jempol. Anda akan jatuh hati dengan dinamika Brok dan Sindri yang punya kepribadian yang begitu berbeda, misalnya.
Bentuk keren dan nama sulit, musuh God of War in a nutshell.
Acungan dua jempol juga pantas diarahkan pada desain musuh yang Anda temui. Berbeda dengan mitologi Yunani yang lebih banyak memuat karakter bak monster di dalamnya, Norse memuat ancaman dengan bentuk visual yang lebih berdasarkan bentuk humanoid dengan sedikit twist, baik Draugr yang tidak lebih dari sekedar mayat hidup, Troll raksasa dengan Totem mereka, hingga para Revenant yang tampil bak penyihir yang mampu menghilang. Semakin jauh progress permainan Anda, semakin banyak pula varian musuh yang Anda temui dengan animasi serangan dan kelemahan mereka yang berbeda-beda. Pelan tapi pasti, perjalanan Anda mencari puncak tertinggi di realm ini akan berujung pada usaha bertahan hidup dari monster beragam ukuran. Tentu saja, Anda juga akan “bersinggungan” dengan penghuni Asgard nantinya.
Dengan semua daya tarik ini, maka bisa disimpulkan bahwa tidak ada yang bisa dikeluhkan dari God of War terbaru ini. Memesona dari sisi visual, dunia, dan audio yang dihadirkan, Anda benar-benar akan dibawa masuk ke sebuah setting yang unik dan berbeda dibandingkan seri-seri God of War sebelumnya. Namun di sisi lain, ada tetap bisa merasakan bahwa ada sesuatu yang misterius dan mengancam di balik gunung-gunung tinggi bersalju di sini.
Serupa tapi Tak Sama
God of War tentu menawarkan banyak perubahan dan perbedaan dibandingkan seri sebelumnya. Salah satu yang signifikan adalah kamera.
Jika kita harus menyederhanakan tiga jenis perubahan paling signifikan yang ditawarkan Sony Santa Monica di seri terbaru God of War ini adalah: Atreus, Sistem kamera, dan juga Leviathan Axe sebagai senjata utama. Perubahan sistem kamera menjadi over the shoulder dan bukan lagi fixed seperti di era Playstation 2 dan Playstation 3 memang menawarkan sensasi gameplay yang kini berbeda. Secara mengagumkan, terlepas dari semua perubahan yang ia tawarkan, ia masih menyisakan sensasi familiar yang serupa dengan apa yang Anda kenal dari God of War selama ini.
Perubahan sudut pandang menjadi over the shoulder ala game seperti The Last of Us atau Resident Evil 4 tentu menghadirkan satu konsekuensi yang pasti – sensasi permainan yang lebih sinematik. Menikmati pemandangan dunia yang baru dari sudut pandang ini, bersama dengan struktur bangunan yang ada tentu menghasilkan skala kemegahan yang seharusnya, dari ukuran, luas, hingga ragam efek visual yang mengikutinya. Maka seperti game-game yang mengalami pendekatan serupa pula, ada banyak fungsi yang tidak lagi bisa Anda temukan di sini. Fungsi tombol melompat atau memanjat kini berdasarkan prompt pada situasi tertentu, dan tidak bisa lagi dieksekusi secara manual. Pendekatan ini membuat God of War, terasa lebih modern.
Sudut kamera seperti ini menghasilkan pengalaman bermain yang lebih sinematik serta lebih efektif menangkap luas atau dramatisnya setting yang ditawarkan.
Dengan sudut pandang yang tentu saja lebih terbatas, fokus permainan akan lebih diarahkan untuk menghabisi satu target musuh secepat mungkin sebelum beralih ke musuh selanjutnya.
Namun satu hal yang menarik, implikasi terkuatnya tentu ada pada sensasi pertarungan yang Anda lewati. Bertarung dengan kamera fixed yang lebih banyak isometrik di seri lawas tentu berbeda ketika Anda menikmatinya dengan sudut pandang kamera lebih dekat. Dengan sensasi pertarungan yang lebih personal seperti ini, maka pertarungan menjadi lebih difokuskan pada 1 vs 1 dan berusaha mawas pada ancaman yang datang dari luar sudut pandang Anda. Menyerang satu musuh dan berusaha menghabisi mereka secepat mungkin sebelum berpindah ke musuh yang lain akan jadi kunci kemenangan. Untungnya, seperti seri masa lampau, senjata baru Kratos – Leviathan Axe mampu menjalankan tugasnya dengan baik.
Sensasi menggunakan Leviathan Axe tentu berbeda dengan Blade of Chaos di seri-seri sebelumnya. Ia punya range lebih pendek dan animasi serangan biasa dan kuat yang tentu saja berbeda. Namun satu yang pasti, ia tetap efektif untuk menghancurkan musuh apapun yang Anda temui lewat kombinasi yang ada. Maka seperti game action pada umumnya, Kratos akan bisa mengeksekusi serangan kombo untuk menghasilkan damage atau efek tertentu. Beberapa animasi akan punya efek berbeda, seperti serangan kuat yang berpotensi meluncurkan musuh Anda ke udara untuk membuat mereka terbuka untuk serangan lebih lanjut. Semakin jauh progress permainan, semakin banyak pula kombinasi serangan yang bisa Anda akses. Tangan Anda akan terus sibuk karena tuntutan untuk menggabungkan ragam serangan terpisah ini menjadi satu serangan runtut untuk efek maksimal. Ada serangan yang meminta Anda untuk menahan tombol untuk membuat serangan lemparan kapak memutar, ada serangan dengan efek AOE yang bisa dieksekusi dengan berlari, hingga serangan kuat yang ditahan untuk damage besar yang bisa ditutup dengan animasi finishing yang lain. Secara mengejutkan, bahkan di pertarungan melawan boss sekalipun, porsi QTE untuk God of War sendiri juga sudah berkurang jauh. Proses menghabisi monster tertentu dengan scene yang epik biasanya bisa diselesaikan dengan hanya menekan satu tombol trigger saja, dan tidak lebih.
Range lebih pendek, sensasi menggunakan Leviathan Axe tentu berbeda dengan Blade of Chaos di seri God of War sebelumnya. Namun ia tetap menitikberatkan kemampuan untuk mengkombinasikan ragam serangan yang ada.
Leviathan Axe juga bisa digunakan sebagai senjata lempar yang tidak akan otomatis kembali. Benar sekali, ada satu tombol terpisah yang memang ditujukan untuk memanggilnya kembali ke tangan Anda, yang akan berguna di beragam situasi berbeda.
Leviathan Axe, seperti yang bisa Anda prediksi, tentu bukan sekedar diayunkan saja. Anda juga bisa melemparnya untuk tiga tujuan: menyerang, puzzle, atau untuk sekedar iseng. Perlu diingat, lemparan kapak milik Kratos ini tidak akan kembali secara otomatis. Sony Santa Monica bahkan menetapkan satu tombol khusus yang ditujukan untuk memanggilnya kembali. Walaupun jarak tempuh yang dihasilkan tidak selalu nyata, dimana semakin jauh Anda meninggalkannya – semakin lama pula waktunya untuk kembali ke tangan Anda, namun ini menghasilkan efek keren yang juga berguna di pertarungan dan puzzle. Jalur lempar kapak dari tangan Anda dan kembali ke tangan Anda dihitung sebagai serangan jarak jauh dengan damage tersendiri. Perlu diingat pula, bahwa kapak Kratos juga diperkuat dengan elemen es yang di momen tertentu, akan mampu membuat musuh membeku dan tentu saja, lebih bebas untuk Anda serang. Anda juga bisa melemparnya atas nama iseng, hanya untuk melihat seberapa jauh Anda bisa melempar kapak Anda di area bebas dan berapa lama ia kembali ke tangan Anda. Percaya atau tidak, di titik tertentu, Anda akan menjajalnya.
Elemen lain yang membuat peran kapak ini menjadi penting adalah rangkaian puzzle yang harus Anda lewati, baik untuk mengejar progress cerita ataupun sekedar membuka beragam peti yang berisikan reward yang menarik. Banyak dari puzzle ini akan meminta Anda untuk memerhatikan mekanisme pintu atau katrol tertentu misalnya, yang dengan kapak Anda, Anda bisa membuat mereka berhenti sementara sampai Anda memutuskan untuk memanggil kapak Anda kembali. Peti harta karun lebih penting yang berisikan komponen-komponen yang bisa menyediakan upgrade untuk bar HP dan Rage Anda misalnya, juga biasanya ditempatkan di dalam mekanisme yang mengharuskan Anda membuka tiga buah kunci dengan simbol berbeda. Simbol yang biasanya tersemat dalam batu atau lonceng, yang dengan lemparan kapak Anda, harus dihancurkan atau dibunyikan.
Ia juga jadi solusi beberapa puzzle yang akan Anda hadapi selama proses eksplorasi.
Kratos juga bisa bertarung tangan kosong untuk mengisi bar Stun musuh. Jika penuh, ANda bisa mengakses serangan pemungkas sinematik khas franchse ini untuk membunuh secara instan, atau sekedar damage lebih besar.
Lantas, bagaimana jika Anda tengah panik dan lupa untuk memanggil kapak Anda? Tenang saja, Kratos tetaplah seorang dewa dengan kekuatan fisik yang luar biasa. Anda tetap bisa bertarung dengan tangan kosong. Uniknya, pertarungan tangan kosong ini juga memuat mekanisme lain di dalamnya. Berbeda dengan Leviathan Axe yang menjamin damage yang cukup besar untuk setiap serangan, pukulan tangan kosong akan lebih efektif untuk memenuhi bar Stun milik musuh yang diwakili dengan garis berwarna merah muda di bawah HP mereka. Begitu bar Stun ini penuh, Anda bisa memicu aksi eksekusi dengan damage super besar, yang bisa jadi berakhir membunuh mereka. Sebagai contoh? Gerakan ikonik Kratos yang mampu naik ke atas Ogre dan mengendalikannya misalnya, kini bisa dikejar dan diakses dengan berupaya memenuhi bar stun ini terlebih dahulu. Beberapa varian musuh juga didesain untuk anti-Leviathan Axe yang membuat senjata ini tidak berguna, hingga tangan kosong menjadi keharusan.
Untungnya, Anda juga akan dibantu oleh Atreus yang tidak hanya berfungsi sebagai elemen cerita saja, tetapi juga terlibat secara aktif dalam pertempuran. God of War bahkan memberikan Anda satu tombol tersendiri untuk memerintahkan Atreus menembakkan panahnya. Fungsinya, tentu saja bukan sekedar untuk damage yang notabene tidak bisa terhitung efektif. Atreus bergerak layaknya karakter pendukung untuk Kratos dan berfungsi sebagai sebuah “senjata range” yang terus bisa diakses ketika dibutuhkan dengan jumlah panah yang layaknya skill, berbasis cooldown. Panah Atreus bisa digunakan untuk memancing perhatian musuh agar Kratos bisa menyerang lebih bebas, atau sekedar membuat mereka yang bergerak super cepat seperti Revenant mengalami sedikit waktu stun hingga bisa diserang. Seiring dengan progress permainan, dengan varian panah yang terbuka, Atreus juga bisa menggunakan panah cahaya dan panah listrik yang akan punya efek berbeda pada musuh dan bisa dimaksimalkan untuk kondisi tertentu. Panah ini juga akan menjadi kunci beberapa puzzle yang Anda temukan di sepanjang permainan.
Bisa Anda komando untuk memanah, Anda bisa melihat Atreus tak ubahnya “Support range” Anda. Ia bisa mengalihkan perhatian, membantu serangan melee Anda, dan menghasilkan efek status lainnya bersama dengan variasi anak panah yang ia temukan.
Mengingat petarungan selalu terjadi jarak dekat, Shield Anda akan jadi penyelamat di begitu banyak kondisi.
Trik Kratos masih belum berhenti sampai di sana. Walaupun masih didukung dengan aksi rolling untuk menghindari serangan, ia kini juga dibekali dengan sebuah shield di tangan kirinya. Dengan menggunakan Shield ini, Anda akan bisa menangkis sebagian besar serangan tanpa damage atau melakukan parry untuk melakukan serangan balik berbasis timing. Musuh juga akan punya serangan yang tidak bisa di-blok yang biasanya diikuti dengan sebuah indikator berwarna merah untuk memberikan peringatan pada Anda. Mengikuti sepak terjang Kratos di seri masa lampau, dengan sebuah bar Rage yang akan terisi seiring dengan pertarungan yang Anda lewati, Kratos bisa mengakses Spartan Rage yang akan membuatnya mengamuk dan menyerang membabi buta dengan tangan kosong. Tidak menjadi solusi “instan” untuk semua masalah dan jenis musuh yang Anda hadapi, Spartan Rage pada akhirnya lebih efektif untuk membuat bar Stun milik musuh penuh alih-alih langsung menghabisi mereka. Menyimpan dan menentukan kapan tepatnya untuk melepaskan energi ini akan cukup krusial menghadapi beberapa varian musuh, yang menyulitkan baik dari sisi kualitas dan kuantitas.
Dan pada akhirnya, Leviathan Axe juga menghadirkan satu konsep baru yang berbeda pada serangan Kratos. Sesuatu yang disebut sebagai Runic Attack. Anda bisa melihatnya sebagai sistem skill berbasis cooldown yang bisa diperkuat dan dibongkar-pasang, tergantung pada kebutuhan Anda, dengan proses pembagian kategori berdasarkan serangan ringan dan berat milik Kratos. Ada banyak varian Runic Attack yang bisa Anda dapatkan dan gunakan, dan masing-masing akan menawarkan keuntungan tersendiri dalam pertempuran. Ada yang punya efek sangat lugas seperti serangan dengan damage besar, namun tidak sedikit pula yang berfungsi lebih efektif sebagai crowd-control, dimana serangan bisa berujung pada efek es atau sekedar punya area yang besar untuk memastikan Kratos aman.
Anda bisa menyederhanakannya sebagai skill berbasis waktu cooldown yang bisa dibongkar pasang, Kratos juga punya akses serangan spesial yang disebut sebagai Runic Attack.
Walaupun tingkat kesulitan di level normal terhitung mudah untuk cerita utama, ada boss optional ala Dark Souls yang siap untuk membuat tangan Anda cedera dan hati Anda berteriak kesal.
Walaupun di awal, perubahan yang ditawarkan terlihat begitu signifikan, namun pelan tapi pasti Anda akan menemukan bahwa konsep dasar God of War yang selama ini kita kenal masih tersisa dan mengalir kental dari sistem pertempuran dengan sudut pandang kamera baru, musuh baru, dan senjata yang baru ini. Beberapa pertarungan boss bahkan akan menyulitkan, hingga cukup untuk membuat Anda frustrasi. Ada musuh yang didesain untuk mewakii pengalaman yang tidak banyak berbeda dengan Dark Souls, dimana mereka punya serangan dengan damage besar dan animasi repetitif yang butuh Anda perhaitkan untuk dihindari. Namun jika Anda merasa bahwa varian boss optional ini tidak cukup sulit, Anda selalu punya kesempatan untuk menikmati game ini di tingkat kesulitan tertinggi yang akan membuat musuh biasa seperti Draugr sekalipun, menjadi sangat menjengkelkan dan mematikan.
Dengan kombinasi seperti ini, God of War tampil sebagai game yang secara pondasi, solid. Untuk gamer yang sempat mencicipi seri lawasnya, ada sesuatu yang familiar dengan gaya bertarung Kratos yang tidak pernah mengenal kata ampun di sana. Bagi gamer baru, kombinasi yang bisa Anda akses di atas varian musuh yang cukup banyak akan membuatnya terasa menegangkan seru. Untuk gamer yang datang dengan mencari tantangan, percayalah, Anda selalu bisa mendapatkannya di tingkat kesulitan tertinggi.
Semi Open-World Action RPG
God of War, bukan lagi sekedar game action di sini.
Menyebut seri terbaru God of War ini sekedar sebagai game “action” saja sepertinya sudah tidak berlaku lagi. Seperti yang kita tahu, seri lawas God of War adalah sebuah game yang memang memungkinkan Anda untuk memperkuat Kratos, terutama di sisi senjata. Semakin kuat senjata, semakin besar damage yang mampu ia hasilkan, semakin efektif pula aksi Anda di pertempuran. Namun konsep tersebut berhenti sampai di sana. Sony Santa Monica menawarkan konsep serupa namun dalam kapasitas yang lebih luas, sebuah gameplay yang kini jauh lebih menyerupai game action RPG daripada sebuah game action belaka.
Anda memang tidak akan bertemu dengan angka damage dan sebagainya pada saat Kratos menyerang, namun kesempatan untuk memperkuat karakter ini tidak lagi sekedar didasarkan pada orb merah atas nama memperkuat senjata saja. Kratos dan Atreus sebagai sistem support utama kini mendapatkan pohon skill berbeda yang dipisah berdasarkan kategori senjata, namun membutuhkan EXP sebagai resource untuk membuka dan memperkuatnya. EXP bisa didapatkan dari menyelesaikan ragam misi sampingan, menyelesaikan puzzle, hingga membunuh beragam musuh yang Anda temui di sepanjang perjalanan. Kratos akan punya tiga pohon skill berbeda: kapak, shield, dan Spartan Rage, sementara Atreus akan punya satu pohon khusus yang dibagi ke dalam dua varian panah yang akan ia miliki nantinya.
Sistem skill yang bisa dibuka berdasarkan level senjata dan jumlah EXP yang Anda miliki.
Status Kratos untuk tiap kategori kini akan dipengaruhi oleh modifikasi senjata, armor, hingga socket gem yang ia kenakan. Ia juga biasanya diperkuat buff aktif dan pasif di dalamnya.
Yang menguat sensasi bahwa ini adalah game action RPG adalah implementasi sistem equipment, crafting, dan bagaimana keduanya berpengaruh pada status Kratos yang kini bisa diakses secara gamblang. Layaknya game RPG pada umumnya, besar damage yang bisa dihasilkan Kratos atau seberapa efektif serangan Runic yang ia lemparkan akan sangat ditentukan pada besar status yang ia miliki. Dan semuanya dipengaruhi oleh level senjata dan juga equipment seperti apa yang Anda kenakan.
Fungsi untuk memodifikasi pakaian dan senjata Kratos juga cukup lengkap, dari sekedar menentukan gagang kapak apa yang ingin Anda gunakan hingga menyuntikkan “gem” seperti apa untuk slot armor dan sejenisnya. Efeknya bukan sekedar status saja. Akan ada beberapa gem yang juga menyertakan ragam efek buff dengan nama-nama unik. Ada yang mampu memperkuat efek es serangan Kratos, ada yang menawarkan kesempatan untuk menjatuhkan orb healing berwarna hijau lebih tinggi, hingga yang memberikan Anda kesempatan untuk melambatkan waktu jika dibutuhkan. Setiap buff juga akan punya penjelasan eksplisit terkait kesempatan untuk memicu efek tersebut, dari Very Low hingga Very High. Belum cukup? Ada penyertaaan sistem elemen seperti es, api, hingga racun di sini yang tentu saja, bisa jadi mimpi buruk Anda atau justru, sumber fokus Anda yang baru.
Anda memang tidak bisa meracik senjata dan tetap berkutat dengan Leviathan Axe, namun Anda bisa mengejar dan mencari bahan untuk menempanya menjadi lebih kuat. Sistem armor juga membutuhkan proses crafting dan tidak sekedar bisa dibeli dari dua Blacksmith bersaudara – Brok dan Sindri begitu saja. Semakin langka armor yang ingin Anda racik, semakin langka pula material yang dibutuhkan, dan semakin kompleks pula usaha untuk mendapatkannya. Beberapa meminta Anda untuk mengejar misi sampingan, sementara beberapa lainnya bisa didapatkan dari sekedar menghabisi boss opsional misalnya. Anda mungkin bisa menyelesaikan cerita utama dengan equipment yang terhitung “standar”, namun untuk menghabiskan semua tugas yang tersedia dan opsional, memperkuat diri adalah sebuah kewajiban.
Semakin langka armor Anda, semakin langka pula jenis material yang perlu Anda persiapkan untuk Brok dan Sindri.
Tidak lagi linear, ia kini mengusung konsep semi open-world.
Maka dari sistem seperti ini, maka Anda sepertinya sudah bisa menerka di bagian mana kami menyebutnya sebagai game “semi open-world”. Karena tidak seperti game God of War di masa lalu yang bergerak linear dan meminta Anda untuk menempuh cerita demi cerita, God of War terbaru ini menawarkan sebuah dunia terbuka yang bisa Anda eksplorasi. Daerah yang disebut sebagai “Lake of Nine” ini adalah sebuah area cukup besar yang bisa dijelajahi oleh Kratos, Atreus, dan Mimir dengan menggunakan kapal mereka. Maka seperti game open-world pada umumnya, Anda bisa sekedar bergerak menuju ke area misi utama dan melanjutkan cerita. Namun untuk Anda yang ingin menjelajahinya sendiri, akan ada reward yang pantas, dari sekedar memenuhi rasa penasaran dimana Anda bisa menautkan kapal Anda, hingga menyelesaikan ragam misi sampingan yang ada.
Benar sekali, game ini memuat ragam misi sampingan yang ada, dan didesain dengan cukup baik. Ada misi sampingan “malas” ala game open-world yang berakhir sekedar meminta Anda untuk mencari artifact atau sekedar menutup lubang dimensi yang tersebar, misalnya. Namun God of War juga memuat desain misi sampingan lain dengan cerita yang solid, dari sekedar membantu para arwah manusia tertinggal yang butuh sebuah konklusi konflik sebelum bisa berjalan ke Valhalla, hingga permintaan khusus dari Bokr dan Sindri yang masing-masing akan punya misi mereka sendiri-sendiri. Biasanya misi sampingan ini akan mendorong Anda untuk melakukan eksplorasi atau bergerak menuju ke area yang tidak pernah Anda tahu bisa Anda kunjungi, dan tentu saja, menikmati apapun tantangan, reward, ataupun puzzle yang dihadirkan di sana. Pengalaman penuh God of War akan bisa dinikmati jika Anda menyibukkan diri untuk menyelesaikan misi-misi ini.
Ada banyak misi sampingan yang bisa Anda selesaikan dengan reward yang pantas.
9 Realms…
Satu yang bahkan lebih fantastis? God of War juga mengeksplorasi konsep “9 dunia yang berdiri di atas Yggdrasil” yang memang menjadi basis cerita untuk mitologi Norse. Bahwa Midgard atau dunia yang kita kenal sebagai dunia manusia, bukanlah satu-satunya dunia yang akan bisa Anda jelajahi. Kami tidak akan membuka detail kepada Anda realm apa saja yang bisa Anda singgahi dan kunjungi, namun konsep Bifrost adalah sesuatu yang bisa Anda dapatkan di God of War dan Kratos memegang kunci tersebut di salah satu titk cerita. Kerennya lagi? Terlepas dari beberapa realm yang mau tidak mau Anda kunjungi sebagai bagian dari misi utama, ada beberapa realm lain yang muncul sebagai “reward” dari misi sampingan yang akan menawarkan pendekatan daerah dan tantangan yang berbeda. Hasilnya? Anda akan sangat terdorong untuk menjelajahi dunia yang ditawarkan oleh God of War ini.
Dengan pendekatan seperti ini, struktur God of War memang terasa berbeda. Satu yang pasti, di luar waktu permainan untuk garis cerita utama yang sudah begitu panjang, konsep dunia semi-terbuka dari apa yang ditawarkan di sini akan kian membuat waktu permainan tersebut semakin meningkat drastis, apalagi untuk Anda yang ingin mengetahui dan mendapatkan segala sesuatunya. Kami menyebutnya sebagai “semi open-world” karena sekedar fakta bahwa Anda tidak lantas bebas untuk bergerak kemana saja sejak awal permainan. Bahkan eksplorasi Anda di Lake of Nine sendiri juga akan dibatasi oleh gerak Jormungandr yang di progress cerita, pelan tapi pasti, akan membuka lebih banyak area dan misi sampingan untuk Anda kunjungi. Mengingat beberapa puzzle juga akan baru bisa diakses setelah solusi seperti varian panah Atreus sudah tersedia, Anda tidak akan menemukan kebebasan layaknya game open-world pada umumnya di sini.
Menikmati Dongeng Mimir
Mimir di mata kami, menjadi salah satu bagian terbaik God of War.
Ada satu elemen lain yang tidak pernah kami prediksi, akan berakhir kami cintai dari God of War. Untuk Anda yang seringkali menikmati game action, penceritaan soal lore belakang layar dari dunia yang tengah Anda nikmati biasanya berakhir membosankan ataupun dianggap tak penting, dan berujung Anda abaikan begitu saja. Banyak game yang kemudian berusaha menjadikan lore dunia ini sekedar “hal ekstra” yang bisa Anda temukan dan dapatkan lewat beragam collectibles atau dokumen yang Anda temukan saat menjelajahinya, yang kami yakin bagi sebagian besar gamer, juga tidak sebegitu menarik untuk diikuti. Tetapi ada sesuatu yang istimewa dengan apa yang dilakukan Sony Santa Monica dengan God of War Ini.
Seperti yang Anda tahu, dari skema semi open-world yang kami bicarakan sebelumnya, banyak dari waktu Anda akan dihabiskan dengan menaiki sampan kecil milik Kratos untuk bergerak dari satu titik ke titik lainnya, melakukan apapun yang menurut Anda ingin Anda lakukan. Untuk mengisi kekosongan tersebut, God of War menjadikannya sebagai momen penting untuk membangun kedekatan dengan karakter yang ada. Di awal, ketika ia hanya memuat Kratos dan Atreus, Anda bisa bertemu dengan pembicaraan dua sosok berhubungan darah yang di awal permainan, tidak bisa disebut dekat ini. Pelan tapi pasti, keduanya berupaya berinteraksi satu sama lain, berbagi kisah dan mendekat. Sebuah interaksi yang tentu saja, pantas untuk diacungi jempol, karena seperti halnya yang dilakukan Naughty Dog dengan The Last of Us, ia terasa lebih natural dan hidup. Ketika karakter lainnya – Mimir masuk , daya tarik perjalanan ini berubah total.
Lewat “dongeng”-nya, Anda akan mendapatkan begitu banyak cerita mitologi Norse yang mengagumkan.
Begitu menariknya cerita yang ia tawarkan, hingga kami tidak berkeberatan untuk menghentikan sampan, berdiam, hanya untuk membiarkannya menyelesaikan cerita tersebut.
Entah karena kami yang memang bias karena selalu penasaran dengan isi mitologi Norse yang seharusnya dan bukan sekedar interpretasi melenceng dari produk populer seperti Marvel misalnya, atau karena memang eksekusinya berakhir fantastis, namun menikmati dongeng mitologi Norse dari Mimir adalah salah satu bagian yang paling kami suka dari God of War. Apa yang ia jelaskan membantu Anda menangkap gambaran lebih jelas apa yang sebenarnya terjadi di Midgard, apalagi mengingat Kratos memang baru aktif dan menjelajahi dunia ini setelah perang besar berkecamuk di masa lalu. Terkadang tambahan dongeng ini disesuaikan dengan apa yang baru saja terjadi dengan Kratos dan Atreus. Ia memperkuat lapisan lore yang fantastis.
Dikombinasikan dengan voice acting dan aksen Mimir yang begitu menenangkan, maka cerita-cerita ini disampaikan dengan konten yang begitu menarik. Ada gambaran soal Ragnarok, dimana pertarungan antara Thor dan Jormungandr akan menghiasinya, ada kisah soal Skoll dan Hati – dua ekor serigala yang mengejar matahari dan bulan, ada kisah soal bagaimana Ymir menjadi raksasa yang menjadi sumber dari begitu banyak kehidupan, hingga kisah Freya yang dipaksa untuk menikah dengan Odin dan dianggap pengkhianat oleh para Vanir karena telah menikah dengan seorang Aesir, dan sebagainya. Konten yang ia tawarkan cukup banyak, dari awal hingga akhir permainan. Cerita-cerita dongeng Mimir ini saking menariknya, hingga cukup untuk membuat kami terkadang berhenti mengayun sampan dan memilih mendengarkan kisah yang ia lemparkan hingga selesai. Mengapa? Karena semata-mata ia akan berhenti bercerita, setiap kali Anda menepi dan tidak berada di atas sampan lagi. Ada kepuasan tersendiri ketika menikmati kisah epik dari karakter yang mungkin atau tidak Anda temui nantinya.
Walaupun God of War sendiri tidak mengikuti pakem mitologi Norse yang seharusnya, mengingat sosok seperti Kratos ataupun Atreus tidak pernah ada, namun Sony Santa Monica tetap menyediakan cerita berbasis fakta untuk sebagian besar karakter yang ada untuk tidak hanya membangun dunia mitologi yang lebih sempurna, tetapi juga membantu Anda menangkap dunia yang mereka tawarkan dengan lebih baik. Anda akan menikmati kisah-kisah yang ditawarkan oleh Mimir ini, apalagi mengingat sudut pandang yang biasanya mengakar pada pengalaman pribadinya mengingat kedekatan hubungannya dengan Odin di masa lalu. Anda akan mencintainya.
Atreus
Menjadi bagian tambahan paling penting di seri teranyar ini, Atreus tidak butuh waktu lama untuk terasa pantas untuk masuk ke dalam kisah hidup Kratos.
Sepertinya akan sangat tidak adil jika kita tidak menyediakan sebuah porsi pembahasan khusus untuk membahas Atreus, yang bisa disederhanakan sebagai “fitur” baru paling signifikan yang disuntikkan Sony Santa Monica di seri God of War terbaru ini. Karena percaya atau tidak, sosoknya adalah kunci perubahan dari identitas God of War itu sendiri, terutama menyangkut sosok Kratos. Bahwa ia adalah katalis yang akan membuat Kratos, dari seorang karakter dewa yang penuh rasa amarah dan egois, menjadi seorang dewa yang kini memikul tanggung jawab besar, menjadi seorang ayah.
Dari sisi gameplay, sama seperti halnya Ellie dari The Last of Us, Atreus tidak akan sekalipun menjadi beban. Bahkan seperti yang sempat kami tuliskan sebelumnya, Anda bisa melihatnya sebagai “support serangan range” untuk Kratos itu sendiri. Atreus tidak bisa tewas di pertarungan dan selalu menjaga jarak, bahkan ketika ia dikepung sekalipun, hingga ia tidak akan membuat Anda kerepotan. Tidak ada keharusan untuk menjaga Atreus selama permainan. Musuh memang bisa mencengkeram dan berpotensi untuk “mengakhiri hidupnya”, namun waktu yang disediakan bagi Anda untuk bereaksi dan membatalkan hal tersebut terhitung cukup panjang. Hasilnya? Tidak ada akan sekalipun ia berakhir seperti sebuah mission escort, dan lebih terasa seperti seorang companion yang bisa Anda andalkan. Selain gerakan yang bisa Anda perintahkan secara manual, Atreus juga punya ragam animasi gerak lain yang akan ia eksekusi berdasarkan serangan yang Anda lakukan. Selama proses eksplorasi, Anda juga tidak dituntut harus terus melihat atau menjaga AI nya untuk memastikan ia berada di satu ruang yang sama. Tidak ada beban di sini.
Lebih terasa seperti “tangan kanan” Anda, Atreus adalah companion dan bukan sebuah misi escort. Ia punya peran penting untuk membantu aksi Anda bertarung.
Lewat beragam momen tak terprediksi, seperti ketika tengah mengeksplorasi atau sekedar berbincang dengan Bokr dan Sindri, hubungan Kratos dan Atreus akan terbangun di sana, tidak sekedar di cut-scene saja. Sebuah pendekatan yang mirip dengan konsep TLOU atau Uncharted dari Naughty Dog.
Menyamakan Atreus dengan Ellie dari The Last of Us memang bukanlah bahan komparasi yang aneh, karena percaya atau tidak, apa yang dilakukan oleh Sony Santa Monica terkait hubungan emosional antara “ayah dan anak” juga serupa dengan apa yang berusaha dilakukan Naughty Dog di game zombie tersebut. Interaksi mengalir natural dan hubungan diproyeksikan bukan dari sekedar cut-scene demi cut-scene, tetapi juga lewat sistem gameplay itu sendiri. Mengingat Anda menjelajahi bahaya bersama, Kratos terkadang melemparkan komentar tertentu dan begitu pula sebaliknya, menghasilkan sebuah percakapan yang terkadang di beberapa titik, mengundang gelak tawa. Sebagai contoh? Ketika Kratos berusaha menjadi ayah yang bijaksana dan mulai berjuang untuk berbagi nilai-nilai lewat cerita yang ia miliki, namun berakhir dicemooh oleh Atreus. Sebuah kisah yang sepertinya melekat dan tidak terhindarkan bagi hidup remaja, yang di satu titik, tetap akan melihat orang tuanya sebagai karakter yang tidak keren terlepas dari fakta bahwa ayahnya, punya kekuatan super sekalipun.
Namun pada akhirnya, peran Atreus di dalam cerita God of War berujung lebih penting. Ia adalah motor penggerak dan movitasi Kratos untuk tidak lagi “jatuh” pada dosa masa lampaunya, menjadi seorang dewa pemarah yang bergerak atas motivasi yang begitu egois. Atreus di sini tampil sebagai sebuah “perpustakaan” bagi Kratos untuk kembali menggali nilai-nilai kemanusiaan yang sepertinya, tidak lagi ia ingat. Fakta bahwa Atreus juga berbagi lebih banyak waktu, pengalaman, dan pengetahuan dari sang ibu alias istri Kratos juga seolah mewakili nilai dan kebijaksanaan dari wanita yang ia cintai tersebut.
Keduanya saling mengisi dan mengajarkan sesuatu yang tidak dimiliki oleh yang lainnya.
Tidak sekedar datar, hubungan keduanya akan terus diuji dari satu konflik ke konflik lainnya.
Sementara di sisi lain, Atreus pelan tapi pasti, harus mulai memahami dan mengerti bahwa ia bukanlah manusia biasa. Di dalam tubuhnya mengalir darah Kratos yang di masa lalu, bahkan mampu menghancurkan dunia dan membunuh para dewa-dewa berkuasa sekalpun. Motivasi berbeda antara kedua karakter ini yang pada akhirnya, bergerak menuju ke satu titik yang sama, adalah bagian terpenting God of War. Kerennya lagi? Tidak datar, Anda akan menemukan lebih banyak konflik yang akhirnya berujung, menguji hubungan tersebut.
Spekulasi dan Ekspektasi
Mengingat cerita adalah salah satu kekuatan utama, kami akan menyarankan Anda untuk sebisa mungkin menghindari spoiler untuk pengalaman God of War yang maksimal.
Mengingat artikel review ini akan keluar setidaknya satu minggu sebelum Anda, yang tengah membaca artikel ini berkesempatan untuk menikmatinya secara langsung, ada banyak hal yang sepertinya menurut kami pantas untuk dibicarakan jika berbicara soal spekulasi dan ekspektasi yang ada. Karena dengan sekedar berselancar di dunia maya, Anda akan bisa menemukan beragam “informasi” di berbagai forum dan komunitas terkait cerita seperti apa yang akan Anda dapatkan atau ending terkait God of War itu sendiri. Sulit rasanya untuk memilah mana informasi yang tepat dan mana yang tidak. Kami sendiri datang dengan tiga saran: abaikan, bersabar, dan mainkan.
Karena percaya atau tidak, setelah sempat membahas hal yang serupa di artikel preview 3 jam media trip kami ke Singapura beberapa waktu yang lalu, ada beberapa hal lainnya yang sepertinya pantas untuk dibicarakan. Pertama, adalah spoiler. Sebagai sebuah game yang menjadikan cerita sebagai fokus utama, menghindari spoiler adalah sesuatu yang sepertinya esensial untuk menikmati pengalaman God of War di puncak yang paling maksimal. Ada begitu banyak rahasia dan misteri yang akan Anda temukan di sepanjang permainan, serta jawaban yang berujung memuaskan. Menemukan jawaban-jawaban ini, pelan tapi pasti, adalah salah satu keasyikan utama God of War yang menurut, selayaknya Anda perjuangkan.
Kedua adalah ekspektasi. Seperti halnya Anda, kami juga punya begitu banyak harapan dan mimpi soal apa yang ingin kami temui di God of War teranyar ini, dari dewa yang akan muncul, gerak plot, sampai karakter-karakter penting mana saja yang akan memperkuat cerita yang ada. Apalagi mengingat God of War sudah eksis di begitu banyak seri di masa lampau, mengharapkan sebuah cerita dengan skala yang sama tentu saja tidak berlebihan. Jika Anda termasuk gamer seperti ini, biarkan kami melakukan tugas yang seharusnya kami lakukan: menarik pikiran Anda untuk kembali ke tanah.
Ingat, bahwa ini adalah God of War yang akan berfungsi sebagai babak baru. Terlepas dari apakah akan ada seri kelanjutan di masa depan berdasarkan mitologi Norse kembali atau tidak, menjadi sesuatu yang bijaksana untuk memperlakukannya seperti Anda menikmati God of War pertama di era Playstation 2 dulu. Ini adalah kisah awal Kratos dan Atreus memasuki sebuah dunia yang tidak pernah mereka mengerti dengan baik sebelumnya. Jadi? Bisa jadi Anda tidak akan bertemu dengan semua karakter yang Anda bayangkan, seharusnya ada di mitologi Norse. Berapa banyak dari Anda yang akan menginginkan sebuah pertarungan epik dengan Odin, Thor, Loki, Freya, Sigmund, Beowulf, atau melawan naga ikonik seperti Fafnir, misalnya? Kami tidak akan membantah ataupun mengkonfirmasikan apapun, tetapi hendak mengingatkan satu hal. Butuh setidaknya tiga seri utama, di God of War 3, sebelum Kratos akhirnya bertemu dengan Hercules, bertarung dengan Posideon, dan membuat Hermes terlihat seperti hewan ternak.
Memperlakukan God of War ini sebagai babak pertama layaknya God of War di Playstation 2 dulu adalah tindakan paling bijaksana yang bisa Anda ambil.
Ingat, ini juga bukan Kratos yang “sama” secara kepribadian dengan Kratos di seri God of War lawas. Dia tidak datang ke Norse untuk berburu dewa tanpa alasan yang jelas.
Ekspektasi yang juga bisa tercederai adalah gagal memahami bahwa “kisah” Kratos untuk seri God of War sebelumnya sudah selesai. Memang Kratos adalah karakter super brutal yang sempat tidak peduli dengan apapun selain menyelesaikan misi balas dendamnya, bahkan hingga di titik menghancurkan bumi sekalipun. Kita pernah mengenal sosok Kratos tersebut. Namun dengan tewasnya Zeus, luluh lantaknya Olympus, dan tidak adanya lagi mitologi Yunani, otomatis motivasi tersebut juga ikut hilang. Di hadapan Anda sekarang adalah Kratos yang sama, namun tidak lagi berbagi kemarahan dan motivasi yang membuatnya begitu dikenal di masa lampau. Kita bertemu dengan sosok seorang ayah yang saat ini, berusaha untuk membangun hubungan emosional dengan anaknya, Atreus, serta memenuhi mimpi sang istri yang kini tiada lagi ada. Ini bukan tentang seorang Kratos yang sengaja terjun ke mitologi Norse untuk berburu dewa-dewi Norse tanpa alasan yang jelas.
Satu hal yang menarik dan menurut kami pantas untuk Anda antisipasi adalah fakta bahwa Sony Santa Monica benar-benar merahasiakan proses marketing yang mereka suntikkan via trailer dan screenshot yang ada. Alih-alih mengikuti gaya banyak trailer video game AAA yang biasanya memberikan penjelasan yang cukup mendetail dengan gambaran jelas kira-kira konten seperti apa yang bisa Anda dapatkan, mereka tidak melakukannya di God of War. Ada banyak hal yang dirahasiakn dan begitu menarik untuk Anda temukan sendiri, yang bahkan tidak kami sajikan di artikel preview sebelumnya dan review ini. Gabungan trailer dan ragam screenshot yang mereka lepas selama ini sepertinya hanya berkisar 5-10% konten sesungguhnya yang akan Anda dapatkan di versi penuh. Sebagai contoh? Ketika Cory Barlog mengklaim bahwa game ini akan menuntut waktu hingga setidaknya 20 jam permainan untuk diselesaikan, kami bisa memberikan testimoni bahwa hal tersebut, bukan omong kosong belaka. Yang mengagumkannya, itu tidak termasuk waktu eksplorasi yang akan Anda tempuh jika Anda berniat menyelesaikan ragam misi sampingan dan menyelesaikan tantangan opsional yang ada.
Sony Santa Monica juga mengusung kebijakan marketing yang penuh “misteri”. Kami tak ragu menyebut bahwa dari semua screenshot dan trailer yang Anda dapatkan selama ini tidak mencakup 5-10% konten di versi final ini.
Maka datang dengan pikiran terbuka dengan ekspektasi yang rasional serta ingat dan paham bahwa yang Anda temui saat ini adalah sebuah seri pembuka untuk babak baru dari kisah Kratos dan Atreus menjadi sesuatu yang menurut kami esensial. Jangan memproyeksikan apa yang Anda impikan untuk dan inginkan dari sisi konten untuk menilai kualitasnya secara keseluruhan, karena ia bisa berakhir berbeda atau bahkan melenceng dari sisi konten. Cara paling bijak dari sudut pandang kami, adalah memperlakukannya seperti game God of War pertama di era Playstation 2 dulu.
Kesimpulan
God of War melakukan tugasnya dengan baik. Tugas sebagai sebuah game action mumpuni dengan cerita mitologi yang memesona, tugasnya sebagai sebuah babak baru untuk petualangan baru dari Kratos yang selama ini kita kenal, tugasnya sebagai seri yang akan mudah dicintai oleh para fans lama dan fans pendatang baru juga, serta tugasnya sebagai game eksklusif yang kian memperkuat nilai jual Playstation 4 sebagai platform gaming mumpuni. Ini adalah sebuah babak baru dengan cerita yang jujur saja, tidak lagi sabar hendak kami cicipi lagi di masa depan. Luar biasa!
Sebuah langkah penuh resiko yang terbayarkan manis, sepertinya tidak ada lagi kalimat yang lebih tepat untuk menjelaskan apa yang ditawarkan Sony Santa Monica di seri God of War terbaru ini. Anda mungkin berpikir bahwa mereka sudah gila karena perubahan signifikan untuk begitu banyak elemen yang selama ini bisa dibilang mendefinisikan franchise ini sendiri selama beberapa generasi. Namun begitu Anda menjajalnya sendiri, menikmati perubahan-perubahan yang ditawarkan ini, Anda akan jatuh hati. Bahwa jelas perubahan ini dipikirkan dengan matang, disempurnakan dengan lebih banyak fitur, konten, dan mekanisme baru, dan kemudian dibungkus dengan garis cerita yang akan membuat Anda tertarik dari awal hingga akhir. Dikombinasikan dengan OST yang keren dan dongeng mitologi yang siap untuk mencuri hati Anda, tidak ada alasan untuk tidak jatuh hati pada God of War, terlepas dari apakah Anda seorang fans atau gamer pendatang baru yang menjadikan ini sebagai seri perdana ini. Kerennya lagi?
Walaupun demikian, bukan berarti game ini hadir sempurna. Keluhan yang kami miliki bisa terhitung minim dan sebenarnya, bisa diatasi dengan cukup mudah melalui update masa depan. Benar sekali, sistem lock-on dan framerate permainan di beberapa titik akan jadi catatan. Seperti game third person shooter dengan sistem kamera seperti ini, God of War tentu menyediakan sistem lock-on untuk mempermudah Anda menargetkan serangan. Namun tidak jarang ketika musuh berpindah dengan kecepatan tinggi atau sekedar bergerak menyamping secara mendadak, sistem lock-on sepertinya tidak mampu mengejar dan justru berujung, dibatalkan. Walaupun jarang terjadi, namun cukup menjengkelkan. Memainkan game ini dengan setting yang lebih memprioritaskan resolusi di PS4 Pro juga berujung dengan beberapa titik permainan dengan framerate yang menurun. Tidak sampai pada batas tidak bisa dimainkan memang, namun cukup terasa. Anda yang ingin menangkap gambar lewat tombol Share misalnya, juga lebih baik menurunkan efek motion blur yang sepertinya siap untuk “menghancurkan” gambar yang ingin Anda pamerkan dengan efek yang signifikan.
Namun terlepas dari kekurangan yang terhitung kecil tersebut, God of War melakukan tugasnya dengan baik. Tugas sebagai sebuah game action mumpuni dengan cerita mitologi yang memesona, tugasnya sebagai sebuah babak baru untuk petualangan baru dari Kratos yang selama ini kita kenal, tugasnya sebagai seri yang akan mudah dicintai oleh para fans lama dan fans pendatang baru juga, serta tugasnya sebagai game eksklusif yang kian memperkuat nilai jual Playstation 4 sebagai platform gaming mumpuni. Ini adalah sebuah babak baru dengan cerita yang jujur saja, tidak lagi sabar hendak kami cicipi lagi di masa depan. Luar biasa!
Kelebihan
Ia membangun dan menawarkan pondasi mitologi Norse yang luar biasa.
Kualitas visualisasi
Mitologi Norse yang keren
Banyak perubahan penuh resiko yang berakhir manis
Sistem action-RPG
Banyak misi sampingan yang layak untuk dikejar
Pondasi mitologi yang dieksplorasi baik
Dinamika hubungan Kratos dan Atreus
Penuh pertarungan epik
Minim QTE
OST yang cukup untuk membuat bulu kuduk Anda merinding
Reward Eksplorasi yang pantas
Desain dunia secara keseluruhan
Kekurangan
Ia terkadang gagal mengikuti gerak cepat hingga membatalkan kuncian target Anda tanpa alasan yang jelas.
Sistem lock-on terkadang tidak bekerja dengan seharusnya
Permasalahan framerate yang cukup terasa di beberapa area
Cocok untuk gamer: yang mencintai franchise God of War, yang mencintai mitologi Norse
Tidak cocok untuk gamer: yang berpikiran tertutup terhadap perubahan yang diusung, tidak nyaman dengan sudut pandang over the shoulder
ok kali ini cukup itu aja review dari gw karena berhubung waktu TS udah mau habis jadi sekian trima kasih sampai jumpa ,, WASSALAM